Article Detail

Pierre Tendean Yang Setia

Jika membicarakan tentang G30S PKI, tidak lengkap jika kita tidak memasukkan nama Pierre Andries Tendean. Pierre Andries Tendean adalah seorang ajudan dari Jenderal Abdul Harris Nasution. Pria kelahiran Batavia, 27 Februari 1939 ini dilahirkan di keluarga Kristen. Ayahnya, Dr. A. L. Tendean adalah seorang dokter jiwa asal Minahasa. Ibunya, adalah Maria Elizabeth Cornet adalah seseorang dengan darah Belanda-Prancis. Pierre merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dan juga anak laki-laki satu-satunya dari keluarganya. Kakak Pierre adalah Mitze Farre dan adiknya bernama Rooswidiati. Pierre memiliki masa kecil yang sering berpindah-pindah mengikuti pekerjaan sang ayah. Pada masa gerilya, keluarga Pierre membantu pemuda dengan memberikan obat secara sembunyi-sembunyi. Pierre sudah sejak kecil ingin menjadi tentara, namun beberapa kali ditolak oleh keluarganya karena ia adalah anak laki-laki satu-satunya dan keluarga Pierre menginginkan Pierre untuk meneruskan jejak sang ayah dalam karir sebagai seorang dokter jiwa. Meski begitu, Pierre tetap teguh dalam pendiriannya sebagai seorang tentara. Pierre pun diterima di Akademi Militer Nasional dan mengambil jurusan teknik. Dalam karir militernya itu, Pierre menorehkan prestasi yang cukup baik. Wajahnya yang tampan itu membuat Pierre dijuluki sebagai “Robert Wagner dari bumi Panorama” oleh kawan-kawannya dan dipanggil “Patona” oleh seniornya dalam akademi. Tahun 1962 Pierre berhasil lulus dari AMN dengan prestasi yang sangat baik dan memulai karir militernya. Pierre kemudian ditugaskan sebagai Komandan Peleton di Batalion Zeni Tempur 2 Kodam II Bukit Barisan, Medan. Pada tahun berikutnya, Pierre mendapat kesempatan untuk masuk ke Sekolah Intelijen di Bogor, dan kemudian menjalankan tugas intelijennya di berbagai daerah. Selama di tugaskan di garis depan, Pierre sangat menikmati tugasnya. Tidak dengan keluarganya berbanding 180 derajat dengannya. Orang tuanya yang sangat khawatir dengan keadaan putra semata wayang mereka itu pun akhirnya meminta Pierre untuk ditarik ke garis belakang dan ditugaskan sebagai ajudan dari Jendral A. H. Nasution, yang akhirnya ini menjadi karir terakhir dari seorang Pierre Tendean. Pierre mengemban tugas ini dengan penuh tanggung jawab. Sebagai seorang manusia, pasti memiliki kisah cinta. Sama halnya dengan manusia, Pierre pernah memiliki kisah cinta yang unik. Pierre ini mencintai seorang wanita bernama Rukmini yang berbeda keyakinan dengannya. Mereka bertemu di rumah orang tua Pierre ketika Pierre hendak bertemu dengan Pak Chaimin. Lagi-lagi, Pierre mendapat penolakan dari keluarganya untuk meminang Rukmini. Namun karena Pierre ini adalah pria yang tulus mencintai, ia rela untuk berpindah agama demi Rukmini hingga akhir hayatnya. Menanggapi hal itu, keluarganya pun akhirnya merestui putranya itu. Selama bertugas sebagai ajudan dari Jendral A. H. Nasution, Pierre Tendean juga dekat dengan anak bungsu Jendral A. H. Nasution yaitu Ade Irma Suryani Nasution (Yang akhirnya juga tewas terbunuh oleh tentara yang menangkap Pierre). Pierre yang dekat dengannya kerap disapa “Om” oleh Ade Irma dan keluarga Jendral A. H. Nasution. Pada 30 September 1965, Pierre sudah mengajukan cuti untuk merayakan ulang tahun sang Ibu di Semarang pada esok harinya. Namun sebagai seorang ajudan, tugas yang cukup padat menghalangi rencananya tersebut. Pierre yang setia dengan tuannya rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan sang Jenderal dari pasukan Tjakrabirawa hingga akhirnya tewas di tangan orang-orang yang membunuhnya. Pierre wafat pada 1 Oktober 1965 dan awalnya mayatnya dibuang kedalam sumur tua atau yang sekarang lebih dikenal dengan “Lubang Buaya” dan setelah dilakukan pengangkatan jenazah terhadap 7 Pahlawan Revolusi, Pierre dan korban lainnya dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Yohanes Paulus Dewa Made Mazmur Nusantara Raya.

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment