Article Detail
Akibat Konfrontasi Rusia-Ukraina Terhadap Minyak
Akhir-akhir ini, dunia sedang digemparkan oleh berita invasi Rusia ke Ukraina. Perang yang dicetuskan oleh Vladimir Vladimirovich Putin ini, disebut-sebut dilakukan untuk melindungi orang-orang yang menjadi sasaran intimidasi dan genosida. Pernyataan tersebut, keluar langsung dari mulut sang Presiden Rusia, Vladimir Putin. Kemudian Putin juga mengatakan bahwa ini dilakukan untuk demiliterisasi dan denazifikasi. Untuk informasi, demiliterisasi adalah pengurangan senjata, tentara, atau kendaraan militer suatu negara ke batas minimum yang telah disepakati. Biasanya, demiliterisasi merupakan bentuk dari perjanjian damai yang mengakhiri perang/konflik besar. Sedangkan, denazifikasi adalah sebuah kegiatan untuk membebaskan atau melepaskan masyarakat yang dahulunya adalah bekas penjajahan Jerman di masa perang dunia kedua, dari budaya, ekonomi, politik, media, dan peradilan Nazi. Namun, apakah ini diperlukan bagi Ukraina? Apakah hal yang dilakukan oleh Rusia ini benar? Tentu saja tidak. Perang yang awalnya diprediksi hanya akan merugikan Ukraina dan menguntungkan Rusia, akhirnya merugikan kedua belah pihak dan bahkan merugikan bangsa lain. Banyak sanksi yang telah diberikan oleh negara-negara kepada Rusia, seperti UE yang melarang semua perusahaan yang berbasis di wilayahnya untuk berdagang atau berinteraksi dengan Rusia di sektor teknologi, kemudian Amerika Serikat yang membatasi penggunaan layanan dari operator seluler Rusia Rostelecom, dan negara-negara lain yang turut memberikan sanksi kepada Rusia. Selain itu, banyak pula negara-negara yang menghentikan ekspor minyak mereka, seperti Arab Saudi, Qatar, dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Hal ini berdampak bagi beberapa negara yang masih bergantung pada impor minyak. Negara-negara tersebut adalah negara-negara seperti Venezuela, Nigeria, dan sebagainya. Di Indonesia, harga BBM naik. Untuk Pertalite dari Rp. 7.650/liter naik menjadi Rp. 10.000/liter. Solar subsidi naik dari Rp. 5.150/liter menjadi Rp. 6.800/liter. Pertamax dari Rp. 12.500/liter menjadi Rp. 14.500/liter. Informasi tersebut belum termasuk harga BBM nonsubsidi. Jika ini tidak segera diselesaikan, masyarakat Indonesia tidak akan hidup sejahtera, dan mungkin Indonesia akan bernasib sama seperti Sri Lanka. Meski sudah mendapatkan banyak permintaan damai dari berbagai pihak, Rusia tidak menghentikan invasi ini sampai mereka mencapai tujuan mereka. Yohanes Paulus Dewa Made Mazmur Nusantara Raya
-
there are no comments yet