Article Detail
Penertiban PKL di Sekitar SMP Santo Yosef Surabaya
Di luar pagar gedung sekolah SMP Santo Yosef Surabaya, di sisi Utara, pagi ini terdengar agak gaduh tidak seperti biasanya. Selain suara kendaraan, ada suara semacam rangka-rangka kayu yang roboh. Terlihat dari jendela kelas sisi Utara, satpol PP dan pak polisi mengatur lalu lintas diakses menuju jalan Ahmad Yani. Rupanya telah terjadi penertiban kios pedagang. Bangunan-bangunan semi permanen dibongkar oleh para pemiliknya diawasi oleh para satpol PP dan polisi.
Istilah populernya adalah penggusuran pedagang kaki lima. Menjadi perhatian kita, karena lapak-lapak pedagang itu berhimpitan atau bahkan menempel ditembok pagar bangunan sekolah Santo Yosef. Sebenarnya sudah sangat lama para pedagang itu berada di situ, dan pihak sekolah tidak pernah terganggu dengan keberadaan mereka. Justru mereka selalu kita undang untuk menerima bingkisan sembako setiap Natal.
Pemberian bingkisan ini memiliki peranan ganda, yaitu untuk melatih kepedulian anak-anak terhadap sesama yang berkesesakan. Kegiatan ini selalu menjadi agenda penting, karena sejalan dengan visi sekolah dalam rangka pembentukan karakter siswa yang berkepribadian utuh dalam hal ini nilai compassion. Yang kedua secara normatif setiap lembaga publik memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat disekitarnya (social responsibility). Inilah juga yang menguatkan sekolah melakukan kegiatan ini. Bagaimanapun juga unit sekolah juga merupakan bagian dari masyarakat. Maka akan sangat baik jika kehadiran sekolah dapat memberikan benefit bagi masyarakat sekitar. Demikian pihak sekolah juga mendapatkan yang sebaliknya. Setidaknya masyarakat ikut serta menjaga keberadaan sekolah dalam domisilinya.
Pihak pemkot juga memperlihatkan surat perintah wali kota mengenai penertiban ini melalui personal kelurahan dan pihak satpol PP, kepada kepala sekolah. Hal ini penting karena memang bukan pihak sekolah yang keberatan mengenai keberadaan lapak-lapak tersebut, tetapi merupakan program penertiban dari pemkot Surabaya, demi kelancaran lalu lintas, keteraturan dan keindahan kota.
Faktanya Surabaya akan menjadi tuan rumah konferensi habitat internasional, bulan Juli mendatang. Kurang lebih 100 negara akan menghadiri Surabaya, dan kelurahan Sawunggaling (domisili sekolah Santo Yosef) termasuk dalam lintasan kunjungannya. Inilah sebab pelaksanaan penertiban di semua tempat lintasan kunjungan delegasi peserta konferensi.
Pihak wali kota melalui kecamatan, meminta pihak sekolah sebagai pemilik tembok untuk merapikannya. Sekolah akan segera memenuhi permintaan ini. Sekolah khawatir masyarakat kurang mengetahui persis penertiban ini adalah program pemkot Surabaya. Mengamankan kondisi ini sekolah berencana untuk merekrut pekerja pemkot untuk melakukan perapian tembok ini, termasuk pengecatannya. Semoga berlangsung aman dan lancar. (#gladianto#)
-
there are no comments yet