Article Detail


Iman yang Kuat Dimulai dari Sini, SMP Santo Yosef Sambut Siswa SD dalam Rekoleksi Penuh Makna



Surabaya, 16 Mei 2026 — SMP Santo Yosef Surabaya menggelar kegiatan rekoleksi pada Jumat, 16 Mei 2026, dengan mengundang siswa-siswi SD sebagai peserta utamanya. Mengangkat tema "Who Am I? Strong Faith or Strawberry Faith?", kegiatan ini hadir sebagai bentuk kepedulian sekolah terhadap anak-anak SD (terutama dari sekolah negeri) yang fasilitasi pendidikan agamanya belum sepenuhnya terpenuhi.

Ketika Sekolah Membuka Pintunya Lebih Lebar

Acara dimulai dengan sambutan yang memperkenalkan nilai-nilai Tarakanita kepada seluruh peserta. Setelahnya, lima kelompok peserta mengikuti sesi outbound yang berlangsung di tiga pos permainan: menyusun puzzle, mengambil gelas dengan tali dan karet secara berkelompok, serta menebak kata dari gerakan.

Permainan-permainan ini dirancang bukan semata untuk hiburan. Setiap tantangan mendorong peserta untuk saling mengandalkan satu sama lain, melatih kerjasama dan kepercayaan yang menjadi bagian dari nilai Community dalam Cc5+ Tarakanita.


Stroberi dan Iman: Refleksi yang Mengena

Memasuki sesi Ibadah Sabda, suasana beralih menjadi lebih tenang dan reflektif. Diawali nyanyian bersama "Dengan Gembira" (PS 330), peserta diajak merenungkan sebuah analogi yang sederhana namun tajam: iman yang hanya terlihat bagus di luar tetapi rapuh di dalam, seperti buah stroberi. Bacaan Injil Lukas 2:51-52 menjadi titik pijak refleksi sebelum sesi ditutup dengan Doa Bapa Kami dan nyanyian Puji Syukur no. 532.

Sesi ini mencerminkan nilai Celebration dalam Cc5+, bahwa bersyukur dan mengandalkan Tuhan bukan sekadar tradisi, melainkan cara hidup yang membentuk ketangguhan dari dalam.

Menjadi Pribadi yang Lebih dari Sekadar Pintar

Setelah penampilan Ansambel, peserta mendapat pemaparan materi yang menjawab langsung pertanyaan tema: apa artinya menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan bertanggung jawab?

Bapak Damianus Kusviantono, guru SMP Santo Yosef Surabaya, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari keprihatinan yang sederhana namun nyata.

"Kami menyadari ada anak-anak SD yang pelajaran agamanya kurang terfasilitasi. Sebagai sekolah Katolik yang lokasinya dekat, kami merasa punya tanggung jawab untuk hadir bagi saudara-saudara yang seiman," tuturnya.

Ia juga berharap agar dampak kegiatan ini tidak berhenti saat peserta meninggalkan lokasi acara.

"Hari ini mereka tiga sampai empat jam lepas dari HP, untuk mengembangkan iman. Kami percaya Roh Kudus bekerja pada mereka, dan mereka akan menjadi pribadi yang lebih baik serta bermanfaat bagi sekolah, keluarga, dan gerejanya," tambahnya.

Doa Bersama sebagai Penutup yang Bermakna

Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh seorang suster dan lima perwakilan peserta. Sebelum pulang, peserta juga mendapat pengenalan singkat mengenai profil SMP Santo Yosef beserta informasi pendaftaran, sebuah langkah yang wajar mengingat sebagian besar peserta adalah siswa SD yang tidak lama lagi akan memasuki jenjang SMP.

Rekoleksi ini menjadi gambaran konkret dari pendekatan holistik yang selama ini menjadi ciri khas SMP Santo Yosef Surabaya. Sekolah tidak hanya membekali siswa dengan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang utuh, tumbuh secara spiritual, terhubung secara sosial, dan siap memberi dampak bagi lingkungan di sekitarnya. Selaras dengan semangat Celebration Tarakanita, rekoleksi ini mengingatkan bahwa pendidikan yang sesungguhnya dimulai dari iman yang dirawat, bukan iman yang sekadar tampak bagus di permukaan.

 Diliput oleh: Tim Liputan Mahasiswa UNESA  

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment