Article Detail


Menempa Kemandirian dalam Balutan Alam: Keseruan Perkaju SMP Santo Yosef di Mahanaim


PASURUAN – Semangat kepanduan menyelimuti keluarga besar SMP Santo Yosef pada Kamis pagi (7/5/2026). Ratusan siswa berkumpul di halaman sekolah dengan perlengkapan lengkap, ransel besar, tongkat pramuka, dan wajah-wajah penuh antusiasme. Hari itu menandai dimulainya kegiatan Perkemahan Kamis-Jumat (Perkaju) yang berlokasi di kawasan Mahanaim, Mojokerto.

Tepat pukul 09.30 WIB, setelah mendapatkan pengarahan dari kepala sekolah, petualangan dimulai. Uniknya, para siswa tidak menggunakan bus umum, melainkan truk militer hijau yang menambah kesan petualangan. Siswa saling bahu-membahu menaikkan tas dan perlengkapan ke atas truk. Di sepanjang perjalanan menuju Mahanaim, nyanyian dan tawa pecah di dalam bak truk, mempererat ikatan persaudaraan antar-siswa bahkan sebelum tiba di lokasi.

Setibanya di Mahanaim, para siswa langsung disuguhi udara sejuk dan pemandangan pegunungan yang asri. Sesuai jadwal, agenda dimulai dengan mempersiapkan tenda secara mandiri. Siangnya, setelah upacara pembukaan, kegiatan berlanjut pada sesi tes keterampilan kepramukaan.

Dalam sesi tes keterampilan semaphore, para siswa tampak serius berkompetisi. Tidak hanya itu, tes keterampilan baris berbaris juga menjadi sorotan. Suara lantang instruksi dan derap langkah kaki yang kompak menunjukkan fokus dan kedisiplinan yang tinggi dari para anggota pramuka SMP Santo Yosef. Di balik setiap gerakan yang terlatih, tersimpan proses moral grounding penanaman nilai-nilai dasar seperti kepatuhan, kejujuran, dan rasa hormat yang diinternalisasi bukan lewat ceramah, melainkan lewat pengalaman langsung di lapangan.

Puncak keceriaan hari pertama terjadi saat malam tiba. Setelah santap malam bersama di pendopo, api unggun dinyalakan pada pukul 20.00 WIB. Di tengah dinginnya malam Mahanaim, api unggun menjadi sumber kehangatan sekaligus pusat kegembiraan. Berbagai kelompok menampilkan atraksi seni dan yel-yel kreatif yang mengundang tepuk tangan meriah. Api unggun bukan sekadar hiburan—ia menjadi ruang refleksi bersama, momen di mana moral grounding tumbuh secara alami melalui kehangatan komunitas, rasa syukur, dan kesadaran akan nilai kebersamaan. Momen ini ditutup dengan doa malam yang syahdu pada pukul 22.00 WIB sebelum para siswa beristirahat di tenda masing-masing.

Hari kedua, Jumat (8/5/2026), dimulai pagi-pagi sekali dengan olahraga pagi untuk menyegarkan badan. Salah satu agenda yang paling dinanti adalah Lomba Memasak pada pukul 08.00 WIB. Setiap regu ditantang untuk meracik hidangan dengan peralatan terbatas di alam terbuka. Aroma masakan dan kerja sama tim dalam mengolah bahan makanan menjadi pemandangan yang menarik. Dalam keterbatasan itulah moral grounding diuji: siapa yang mengalah, siapa yang mendengarkan, dan siapa yang tetap bertanggung jawab hingga hidangan tersaji.

Keseruan berlanjut pada pukul 10.00 WIB dengan kegiatan outbound. Para siswa ditantang melewati berbagai rintangan yang melatih ketangkasan fisik dan kerja sama tim di area terbuka Mahanaim.

Rangkaian Perkaju resmi berakhir dengan upacara penutupan pada siang hari. Setelah makan siang dan beres-beres lokasi perkemahan, para siswa bersiap kembali ke Surabaya pada pukul 14.00 WIB.

Kegiatan Perkaju tahun ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan media bagi siswa SMP Santo Yosef untuk keluar dari zona nyaman. Lebih dari sekadar petualangan fisik, Perkaju adalah laboratorium moral grounding tempat di mana nilai-nilai seperti kemandirian, tanggung jawab terhadap lingkungan, empati, dan jiwa korsa tidak hanya diajarkan, tetapi benar-benar dihayati dan dipraktikkan. Inilah modal terdalam yang mereka bawa pulang: bukan sekadar kenangan, melainkan karakter yang telah ditempa.


Diliput oleh: Tim Liputan Mahasiswa UNESA  


Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment